About me

Minggu, 25 Maret 2012

Psikologi Masa Persalinan


 1.1  Latar Belakang
Peristiwa kelahiran itu bukan hanya merupakan proses  yang  fisiologis belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai komponen-komponen psikologis. Jika seandainya kelahiran itu  cuma fisiologis saja sifatnya, dan kondisi organisnya juga normal, maka pasti proses berlangsungnya akan sama saja di mana-mana dan pada setiap wanita, serta tidak akan mempunyai banyak variasi. Sedang pada kenyataannya, aktivitas melahirkan bayi ini cukup bervariasi. Dari yang amat mudah dan lancar sampai pada yang sangat sukar, baik itu normal maupun abnormal dengan operasi SC dan lain-lain. Orang menyebutkan beberapa faktor penyebab dari mudah sulitnya aktifitas melahirkan bayi, antara lain ialah :
a.       Perbedaan iklim dan lingkungan sosial, yang mempengaruhi fungsi-fungsi kelenjar endokrin. Dan kelenjar endokrin ini sangat penting fungsinya pada saat melahirkan bayi.
b.      Cara hidup yang baik atau cara hidup yang yang sangat ceroboh dari wanita yang bersangkutan, sebab cara hidup tersebut terutama cara hidup sexualnya mempengaruhi kondisi rahim dan organ genitalnya.
c.       Kondisi otot-otot panggul wanita.
d.      Kondisi psikis/kejiwaan wanita yang bersangkutan.
Orang mendapatkan kesan, bahwa sekalipun kini terdapat banyak kemajuan di bidang kebidanan dan kedokteran untuk meringankan proses partus, namun kehidupan psikis wanita yang tengah melahirkan bayinya itu sejak zaman purba hingga masa modern sekarang masih saja banyak diliputi oleh macam-macam ketakutan dan ketakhayulan. Oleh karena itu, akan mempengaruhi emosi pada saat hamil dan proses melahirkan yang menimbulkan kegelisahan dan ketakutan menjelang kelahiran.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Adat Kebiasaan Melahirkan
Banyak orang berspekulasi tentang mudah atau sulitnya aktivitas melahirkan bayi, dengan memperbandingkan prosesnya dengan berbagai suku bangsa yang mempunyai bermacam-macam budaya.
Penduduk pemeluk norma-norma tradisional secara ketat, wanita-wanita primitif memiliki toleransi lebih besar terhadap penderitaan dan rasa sakit ketika melahirkan bayinya. Dengan demikian proses melahirkan pada wanita-wanita primitif itu lebih mudah dan lebih cepat. Dan proses-proses reproduksi pada mereka itu kelihatannya lebih simpel-sederhana,  jika dibandingkan dengan proses reproduksi pada wanita-wanita modern yang mengalami  “proses degeneratif” diakibatkan oleh kebudayaan yang memberikan banyak kemudahan dan kemanjaan, yang menyebabkan tubuh dan mentalnya kurang tertempa/terlatih untuk fungsi reproduksi atau melahirkan anak bayinya.
Banyak peneliti menyatakan, bahwa otot-otot panggul wanita-wanita primitif itu lebih efisien dari pada otot panggul wanita modern yang serba “manja” sebab wanita-wanita dengan kebudayaan primitif itu hidupnya lebih aktif dan kerjanya jauh lebih berat guna menghadapi tantangan alam, jika dibandingkan dengan wanita modern yang hidup dalam kebudayaan tinggi dengan macam-macam komfort dan fasilitas. Kerja berat dan kehidupan aktif jelas memperkuat otot-otot panggulnya, sehingga memudahkan proses kelahirannya. Sedang kebudayaan modern yang tinggi sekarang ini menyebabkan timbulnya pengaruh yang sangat melemahkan dan inhibitif terhadap otot-otot panggul juga terhadap aktifitas melahirkan anak.
Misalnya, proses kelahiran pada wanita-wanita daerah Tenggger di pegunungan bromo jarang berlangsung sangat lama. Biasanya berproses sekitar satu atau dua jam saja. Pada beberapa suku-suku primitif di tanah batak daerah kalimantan (suku dayak), Kubu (daerah sumatra selatan) dan di irian jaya serta suku-suku primitif di benua Australia, proses kelahiran itu biasanya berlangsung beberapa menit saja. Ibu yang baru melahirkan itu segera memandikan tubuhnya sendiri dan bayi yang baru dilahirkannya di sungai yang paling dekat, lalu kembali pada tugas pekerjaanya yang terpotong atau terganggu oleh aktifitas melahirkannya tadi. Seolah-olah tidak ada suatu peristiwa penting yang terjadi pada dirinya.
Jika seorang wanita suku primitif yang tengah hamil itu tiba-tiba merasakan tanda-tanda mau melahirkan, suatu saat ia akan melakukan perjalanan jauh maka ia berhenti sebentar untuk menolong kelahiran bayi dan diri sendiri, lalu meneruskan lagi perjalanannya sampai ia tiba di tempat yang ingin ditujunya.
Biasanya proses melahirkan itu banyak dipengaruhi oleh proses identifikasi wanita yang bersangkutan dengan ibunya. Jika ibunya mudah melahirkan anak-anaknya maka pada umumnya anak-anak gadisnya kelak juga mudah melahirkan bayinya. Dengan demikian pengaruh-pengaruh psikologis ibu ikut memainkan peranan dalam fungsi reproduksi anak perempuannya. Dan sebaliknya jika ibunya banyak mengalami kesulitan sewaktu melahirkan anaknya maka anak gadisnya juuga mengembangkan mekanisme sulit melahirkan bayinya. Maka proses identifikasi itu tampaknya menyebabkan wanita yang bersangkutan menyerah mengikuti pola melahirkan bayi yang dikembangkan oleh ibunya.
Fakta menunjukkan bahwa baik dikalangan wanita yang berkebudayaan primitif maupun dikalangan wanita-wanita modern di kota-kota besar, sering kali berlangsung peristiwa sebagai berikut : para wanita tersebut ada kalanya dihadapkan pada gangguan-gangguan yang cukup serius dan macam-macam kesulitan sewaktu mereka melahirkan bayinya. Kesulitan tersebut kadang kala mengakibatkan wanita-wanita tadi menjadi invalid atau meninggal dunia. Proses kelahiran yang sulit inilah yang mendorong orang untuk mengembangkan ilmu kebidanan dan kedokteran, guna memperingan penderitaan para ibu yang tengah melahirkan bayinya.

2.2  Emosi pada Saat Hamil dan Proses Melahirkan
Sepintas lalu telah kita singgung beberapa analogi di antara proses kelahiran pada wanita primitive dan wanita modern. Orang mendapatkan kesan, bahwa sekalipun kini terdapat banyak kemajuan di bidang kebidanan dan kedokteran untuk meringankan proses partus, namun kehidupan psikis wanita yang tengah melahirkan bayinya itu sejak zaman purba hingga masa modern sekarang masih saja banyak diliputi oleh macam-macam ketakutan dan ketakhayulan.
            Memang benar, bahwa pada zaman mutakhir ini kepercayaan pada kekuatan-kekuatan gaib selama proses reproduksi sudah sangat berkurang. Sebab secara biologis, anatomis dan fsikologis, kesulitan-kesulitan pada peristiwa partus bisa dijelaskan dengan alasan-alasan patologis atau sebab abnormalitas (keluar-kebisaan). Namun dalam abad ilmiah dengan semua kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat-filsafat materialistis ini, bentuk kuntilanak dan setan demon jahat yang membarengi kelahiran bayi kemudian tampil dalam bentuk baru, yaitu berupa :
Kecemasan dan ketakutan pada dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan sendiri. Oleh rasa berdosa ini wanita yang bersangkutan merasa amat takut kalau-kalau nantinya ia melahirkan bayi yang cacad jasmaniah dan lahiriahnya.
Kita bisa memahami, bahwa lancar atau tidaknya proses kelahiran itu banyak bergantung pada kondisi biologis, khususnya kondisi wanita yang bersangkutan. Namun kita juga mengerti bahwa hampir tidak ada tingkah laku manusia (terutama yang disadari) dan proses biologisnya yang tidak dipengaruhi oleh proses psikis. Maka dapat dimengerti, bahwa membesarnya janin dalam kandungan itu mengakibatkan calon ibu yang bersangkutan  mudah capai, tidak nyaman badan, tidak bisa tidur enak, sering mendapatkan kesulitan dalam bernafas, dan macam-macam beban jasmaniah lain lainnya di waktu kehamilannya.
      Semua pengalaman tersebut di atas pasti mengakibatkan timbulnya rasa rasa tegang, ketakutan, kecemasan, konflik-konflik batin dan material psikis lainnya.
      Lagi pula semua keresahan hati serta konflik-konflik batin yang lama-lama, kini menjadi akut dan intensif kembali dengan bertambahnya beban jasmaniah selama mengandung; lebih-lebih pada saat mendekati kelahiran bayinya.



2.3  Faktor Somatik dan Psikis yang Mempengaruhi Kelahiran
Setiap proses biologis dari fungsi keibuan dan reproduksi, yaitu sejak turunnya bibit ke dalam rahim ibu sampai saat kelahiran bayi itu senantiasa saja dipengaruhinya (distimulir atau justru dihambat) oleh pengaruh-pengaruh psikis tertentu. Maka ada :
Ø  Interdependensi di antara faktor-faktor somatis ( jasmaniah) dengan faktor-faktor psikis.
Ø  Jadi pada fungsi reproduksi yang sifatnya biologis itu selalu dimuati pula oleh elemen-elemen psikis.
Dengan demikian segenap perkembangan psikis dan pengalaman-pengalaman emosional di masa silam dari wanita yang bersangkutan ikut berperan dalam kegiatan mempengaruhi mudah atau sukarnya proses kelahiran bayinya.
Para psikiater dan psikolog pada umumnya tidak mempunyai kesempatan untuk memperhatikan pengalaman psikis wanita yang tengah melahirkan. Juga para dokter dan bidan hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan kondisi psikis wanita tersebut. Sebab mereka biasanya disibuktikan oleh faktor-faktor somatik. Mereka juga terlampau tegang dan capai untuk memperhatikan kehidupan psikis wanita partus tadi. Pada umumnya para dokter dan bidan menganggap tugas mereka telah selesai, apabila bayinya sudah lahir dengan selamat, dan ibunya tidak menunjukan tanda-tanda patologis atau kelainan-kelainan kondisi tubuhnya.
Biasanya para dokter segera melakukan intervensi (pertolongan interventif sebelum kelahiran bayi) jauh sebelum kelahiran bayi, apabila terlihat tanda-tanda kelaianan pada kehamilan. Sebab mereka sama sekali tidak mengharapkan terjadinya proses partus yang abnormal. Bahkan ada kalanya para dokter melakukan pembedahan (kelahiran artificial), dan menerapkan hipnose untuk memperingan penderitaan para wanita yang tengah melahirkan. Maka tampaknya di kelak kemudian hari akan semakin sedikit proses biologis yang spontan alami dari kelahiran bayi, khususnya dalam masyarakat supermodern, berkat bantuan alat-alat kebidanan paling mutakhir, karena wanita-wanita yag bersangkutan memilih kelahiran bayinya lewat pembedahan.
Sangat menarik hati jika kita bisa mendapatkan wawasan tentang reaksi-reaksi psikis dari wanita yang tengah melahirkan bayinya secara spontan. Yaitu memperhatikan:
ü  Pengalaman feminim, kebahagiaan kepedihan/kesakitan yang paling memuncak dan paling mengesankan dalam hidupnya,
ü  Terutama pada saat kelahiran bayinya yang pertama kali.
Untuk memperoleh sedikit pengertian tentang situasi psikologis dari kelahiran, kita harus menjenguk sejenak fase terakhir dari masa kehamilan. Kelahiran sang bayi senantiasa diawali dengan beberapa tanda-tanda pendahuluan. Beberapa minggu sebelum kelahiran bayi, uterus atau rahim ibu itu menurun. Pada setiap luapan emosi yang disebabkan oleh rangsangan kuat dari luar, akan timbul kontraksi-kontraksi dalam kandungan yang hampir mirip dengan kontraksi mau melahirkan. Rahim yang menurun itu mengakibatkan :
Tekanan-tekanan yang semakin terasa berat di dalam perut, ketegangan-ketegangan batin, dan sesak nafas ( sulit bernafas).
Bahkan bagi wanita yang paling sehat sekalipun, kondisi somatik menjelang kelahiran bayi ini dirasakan sangat berat dan tidak menyenangkan. Sering timbul rasa jengkel, tidak nyaman badan, selalu kegerahan, duduk- berdiri–tidur serasa salah dan tidak menyenangkan, tidak sabaran, cepat menjadi letih, lesu, dan identifikasi serta harmoni antara ibu dengan janin yang dikandungnya jadi terganggu. Bayi yang semula sangat diharapkan dan mulai dicintai secara psikologis selama berbulan-bulan itu kini mulai dirasakan sebagai beban yang amat berat.
Penderitaan fisik dan beban jasmaniah selama minggu-minggu terakhir masa kehamilan itu menimbulkan banyak gangguan psikis, dan pada akhirnya merenggangkan runitas ibu anak yang semula tunggal dan harmonis. Perubahan-perubahan organik pada minggu-minggu terakhir itu menimbulkan pula semakin banyaknya perasaan-perasaan tidak nyaman. Maka beban derita fisik ini menjadi latar belakang dari impuls-impuls emosional yang di warnai oleh ”sikap-sikap bermusuhan” terhadap bayinya. Lalu ibu tersebut mengharapkan dengan sangat agar “endofarasit” yang dikandungnya bisa cepat-cepat dikeluarkan dari rahimnya.
Dengan semakin bertambah beratnya beban kandungan dan bertambah banyaknya rasa-rasa tidak nyaman secara fisik, ego wanita yang tengah hamil itu secara psikologis jadi semakin capai dan lesu letih lahir-batinnya. Akibatnya, relasi ibu dengan (calon) anakny jadi terpecah, sehingga polaritas aku-kamu (aku sebagai pribadi ibu dan kamu sebagai bayi) menjadi semakin jelas. Timbulan dualitas perasaan, yairu:
1)      Harapan-cinta-kasih; dan
2)      Impuls-impuls bermusuhan-kebencian
Oleh sebab itu, “musuh” yang ada dalam kandungan itu harus cepat-cepat keluar dari rahim, agar tidak terlampau lama manjadi sumber ketidaksenangan, untuk kemudian dijadikan “objek kesayangan”.
Maka selama minggu-minggu terakhir kehamilan itu muncul banyak konflik antara keinginan untuk mempertahankan janinnya cepat cepat. Pada umumnya peristiwa ini berlangsung dalam batin/kehidupan psikis belaka. Keinginan untuk mempertahankan janin itu merupakan ekspresi dari kepuasaan-diri yang narsistis (dan lindungi janin) yang sudah timbul sejak permulaan masa kehamilan. Keinginan yang narsistis ini cenderung menolak kelahiran bayi, dan ingin mempertahankan janinnya selama  mungkin; jadi terdapat unitas total antara ibu-anak. Dan semakin ketatlah rasa-rasanya identifikasi sang ibu dengan bayinya; sehingga ibu tersebut ingin sekali menolak kelahiran bayinya, atau mengundurkan kelahiran bayinya, selama mungkin.
Bersamaan dengan peristiwa tadi, disebabkan oleh :
a)      Fantasi tentang bakal-bayinya yang segera lahir sebagai objek-kasih sayang, diotambah dengan
b)      Beban fisik oleh semakin membesarnya bayi dalam kandungan, kedua peristiwa itu menimbulkan kecenderungan kuat untuk cepat-cepat “ melemparkan sang bayi keluar” dari kandungan.
Jika konflik antara dua tendensi tadi jadi ekstrim dan patologis, sehingga kecenderungan-kecenderungan untuk membuang/mengeluarkan bayinya yang menang, mungkin akan terjadi peristiwa kelahiran premature ( lahir sebelum waktunya).
Sebaliknya, jika:
a.       Unitas yang narsitis dari sang ibu berupa kesombongan untuk mempertahankan dan memiliki janin yang unggul,
b.      Ditambah dengan kecemasan ibu kalau kalau bayinya nanti tidak mendapatkan jaminan keamanan jika sudah ada diluar rahim ibunya, lagi pula
c.       Ibu tersebut merasa tidak/belum mampu memikul tanggung jawab baru sebagai ibu muda, maka masa kehamilan itu akan jadi lebih panjang/lama. Dengan kata-kata lain, muncullah kecenderungan yang sangat kuat untuk memperpanjang kehamilan.
Ada rasa-melekat yang kuat terhadap status quo; dan timbul pula banyak kecemasan yang akan berkembang menjadi disharmoni atau pecahnya unitas ibu-anak. Muncul pula ketakutan menghadapi kaesakitan dan risiko bahaya melahirkan bayinya. Semua peristiwa ini merupakan hambatan untuk mengakhiri masa kehamilan, dan terjadilah perpanjangan masa kehamilan.
Selanjutnya, disharmoni pada unitas relasi ibu anak pada minggu-minggu terakhir masa kehamilan itu menjadi prelude dari proses pemisahan (bayinya terpisah dari ibunya, keluar dari rahim ibu) yang permanen. Secara sadar, amat banyak wanita yang mendambakan anak pertamanya adalah laki-laki. Sebab banyak sekali tersembunyi dalam dambaan tersebut keinginan untuk “ lahir kembali sebagai laki-laki”, sebagai proses penyempurnaan dirinya. Sebab laki-laki adalah lambang dari hidup serta keperkasaan. Juga sang ayah dan kakek biasanya mengharapkan, agar anak dan cucu pertama adalah laki-laki, sebagai lambang dari :
-          Kelahiran kembali diri mereka
-          Dan sebagai tanda keabadian kepriaannya.
Banyak pula wanita yang mengikuti pola harapan semacam ini, sebagai tanda cinta-kasihnya terhadap suami. Motivasi utama yang terselip di dalamnya adalah penghargaan yang dikaitkan pada hari-hari mendatang; yang pada diri anak lelakinya-lah wanita tersebut mendambakan hadirnya seorang pria yang bisa mengasihi dan melindungi dirinya, terutama jika ia sudah menjadi tua renta.
Berbareng dengan dambaan anak lelaki sebagai anak pertama, sering pula dambaan tersebut disertai keinginan untuk memperoleh anak perempuan yang cantik jelita, dan melebihi segala kualitas sendiri ( melebihi ibunya). Agak aneh tampaknya, bahwa wanita hamil itu sering mimpi melahirkan anak laki-laki yang jelek rupanya. Sedang jika yang diharapkan lahir anak perempuan, maka anak tersebut hendaknya berwajah cantik dan gemilang.
Di sini tampaknya terdapat relasi yang ambivalen terhadap suaminya, yang mengandung unsure perasaan-perasaan majemuk, yaitu : “ inilah anakmu yang ku-lahirkan. Dia gagah kokoh perkasa, namun sama jeleknya dengan wajahmu”. Sebab jauh dibalik ketidaksadarannya, setiap wanita itu mengharapkan agar wajah suaminya itu “tampak” tampan bagi isterinya saja, dan didoakan “tampak buruk” di mata wanita lain. Dengan demikian tidak terdapat resiko suaminya akan direbut oleh wanita lain. Sedang semua mimpi tentang anak perempuan yang akan dilahirkan, pastilah berwajah cantik, persis harapannya sendiri mengenai wajah pribadi ibu itu sendiri dan wajah anak perempuan yang bakal dilahirkan.
Mimpi-mimpi tentang bayi yang akan lahir itu tidak selamanya indah wajahnya dan bernada optimistis. Sebab ada kalanya ibu hamil tersebut mimpi melahirkan seekor monster, anak yang cacad, anak idiot atau pincang. Sehingga mimpi tersebut menimbulkan banyak ketakutan dan kecemasan, yang semakin jadi. Memuncak pada minggu terakhir masa kehamilan. Biasanya setiap wanita-wanita yang pernah melakukan abortus dengan sengaja atau pernah mengalami keguguran - dalam mana ia merasa bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa keguguran tersebut - , sering dihinggapi oleh mimpi-mimpi yang menakutkan itu.
Ada kalanya wanita-wanita tersebut mimpi ditarik oleh dua kekuatan atau dua pribadi yang bertolak belakang arah tujuannya, atau diancam oleh dua macam bahaya secara simultan. Sehingga mimpi-mimpi buruk itu sangat menggangguketenangan batinnya. Namun di antara semua muimpi buruk tersebut toh senantiasa terselip harapan-kegembiraan dan antisipasi kasih sayang pada bayinya yang bakal lahir.

2.4  Kegelisahan dan Ketakutan Menjelang Kelahiran
Pada setiap wanita, baik yang bahagia maupun yang tidak bahagia, apabila dirinya jadi hamil pasti akan dihinggapi campuran perasaan, yaitu rasa kuat dan berani menanggung segala cobaan, dan rasa-rasa lemah hati, takut, ngeri; rasa cinta dan benci; keragu-raguan dan kepastian; kegelisahan dan rasa tenang  bahagia; harapan penuh kabahagiaan dan kecemasan, yang semuanya menjadi semakin intensif pada saat mendekati masa kelahiran bayinya.
Sebab-sebab semua kegelisahan dan ketakutan antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Takut mati
b.      Trauma kelahiran
c.       Perasaan bersalah/berdosa
d.      Ketakutan riil
Takut mati
Sekalipun peristiwa kelahiran itu adalah satu fenomena fisiologis yang normal, namun hal tersebut tidak kalis dari resiko dan bahaya kematian. Bahkan pada proses yang normal sekalipun senantiasa disertai perdarahan dan kesakitan hebat peristiwa inilah yang menimbulkan ketakutan-ketakutan khususnya takut mati baik kematian dirinya sendiri maupun anak bayi yang akan dilahirkan. Inilah penyabab pertama.
Pada saat sekarang perasaan takut mati itu tidak perlu ada atau tidak perlu dilebih-lebihkan, berkat adanya metode-metode yang efektif untuk mengatasi macam-macam bahaya pada proses kelahiran. Dan berkat adanya kemajuan ilmu kebidanan serta pembedahan untuk mengatasi anormali-anormali anatomi anatomis.
Trauma kelahiran
Berkaitan dengan perasaan takut mati yang ada pada wanita pada saat melahirkan bayinya, adapula ketakutan lahir (takut dilahirkan di dunia ini)pada anak bayi, yang kita kenal sebagai “trauma kelahiran”. Trauma kelahiran ini berupa ketakutan kan berpisahnya bayi dari rahim ibunya. Yaitu merupakan ketakutan “hipotesis” untuk dilahirkan di dunia, dan takut terpisah dari ibunya.
Ketakutan berpisah ini ada kalanya menghinggapi seorang ibu yang merasa amat takut kalau-kalau bayinya bayinya akan terpisah dengan dirinya. Seolah-olah ibu tersebut menjadi tidak mampu menjamin keselamatan bayinya. Trauma genetal tadi tampak dalam bentuk ketakutan untuk melahirkan bayinya.
Analog dengan ketakutan semacam ini adalah bentuk gangguan seksual yang neurotis sifatnya, yaitu; ketakutan kehilangan spermanya pada diri laki-laki; atau berpisah dengan spermanya sendiri, karena ia terlalu “kikir” da selalu mau berhemat, yang disebut dengan ejaculation tarda. Kaum pria yang menderita ejaculation tarda pada umumnya dihinggapi ketakutan-ketakutan obsesif untuk membuang atau menghamburan spermanya dimanapun.
Perasaan bersalah/berdoa
Sebab lain yang menimbulkan ketakutan akan kematian pada proses melahirkan bayinya ialah:
Perasaan bersalah atau berdosa terhadap ibunya.
Pada setiap fase perkembangan menuju pada feminitas sejati, yaitu sejak masa kanak-kanak, masa gadis cilik, periode pubertas, sampai pada usia adolesensi, selau saja gadis yang bersangkutan diliputi emosi-emosi cinta-kasih pada ibu yang kadangkala juga diikuti rasa kebencian, iri hati dan dendam; bahkan juga disertai keinginan untuk membunuh adik-adik atau saudara sekandungnya yang dinanggap sebagi saingannya. Peristiwa “ingin membunuh” itu kelak kemudian hari diubah menjadi hasrat untuk memusnahkan janin atau bayinya sendiri, sehingga berlangsung keguguran kandungannya.
Dalam semua aktivitas reproduksinya, wanita itu bsnysk melakukan identifikasi terhadap ibunya. Jika identifikasi ini menjadi salah bentuk, dan wanita tadi banyak mengembangkan mekanisme rasa-rasa bersalah dan rasa berdosa terhadap ibunya, maka peristiwa tadi membuat dirinya menjadi tidak mampu berfungsi sebagai ibu yang bahagia; sebab selalu saja ia dibebani atau dikejar-kejar oleh rasa berdosa.
Perasaan berdosa terhadap ibu ini erat hubungannya dengan ketakutan akan mati pada saat wanita tersebut melahirkan bayinya. Oleh karena itu kita jumpai adat kebiasaan sejak zaman dahulu sampai masa sekarang berupa:
ü  Orang lebih suka dan merasa lebih mantap kalu ibunya (nenek sang bayi) menunggui dikala ia melahirkan bayinya.
ü  Maka menjadi sangat pentinglah kehadiran ibu tersebut pada saat anaknya melahirkan oroknya.
Ketakutan riil
Pada saat wanita hamil, ketkutan untuk melahirkan bayinya itu saat bisa diperkuat oleh sebab-sebab konkret lainya. Misalnya:
a)      Takut kalau-kalau bayinya akan lahir cacad, atau lahir dalam kondisi yang patologis;
b)      Takut kalau bayinya akan bernasib buruk disebabkan oleh dosa-dosa ibu itu sendiri di masa silam.
c)      Takut kalau beban hidupnya akan hidupnya akan menjadi semakin berat oleh lahirnya sang bayi
d)     Muncunya elemen ketakutan yang sangat mendalam dan tidak disadari, kalau ia akan dipisahkan dari bayinya;
e)      Takut kehilangan bayinya yang sering muncul sejak masa kehamilan sampai waktu melahirkan bayinya. Ketakutan ini bisa diperkuat oleh rasa-rasa berdoa atau bersalah.
Ketakutan mati yang sangat mendalam di kala melahirkan bayinya itu disebut ketakutan primer; biasanya diberangi dengan kekuatan-kekuatan superfisial (buatan, dibuat-buat) lainnya yang berkaitan dengan kesulitan hidup, disebut sebagai kekuatan sekunder.
Kekutan primer dari wanita hamil itu bisa menjadi semakin intensif, jika ibunya, suaminya dan semua orang yang bersimpati pada dirinya ikut-ikutan menjadi panik dan resah memikirkan nasib keadaaanya. Oleh karena itu, sikap mengartinya, karena bisa membrikan dan melindungi dari suami dan ibunya itu sangat besar artinya, karena bisa memberikan support moril pada setiap konflik batin, keresahan hati dan ketakuan, baik yang riil maupun yang iriil sifatnya.
Segala macam ketakutan tadi menyebabkan timbulnya rasa-rasa pesimistis dan beriklim “hawa kematian”. Namun dibalik semua ketakutan tersebut, selalu saja  terselip harapan-harapan yang menyenangkan untuk bisa dengan segera dengan menimmang dan membelai bayi kesayangan yang bakal lahir. Harapan ini menimbulkan rasa-rasa optimistis, dan beriklim “hawa kehidupan”, spirit dan gairah hidup. Perasaan positif ini biasanya dilandasi oleh pengetahuan intelektual, bahwa sebenarnya memang tidak ada bahaya-bahaya riil pada masa kehamilan dan saat melahirkan bayinya. Dan bahwa dirinya pasti selamat hidup (survive), sekalipun melalui banyak kesakitan dan dera-derita lahir dan batin. Karena itu pada calon ibu-ibu muda itu perlu ditempakan
Ø  Kesiapan mental menghadapai tugas menjadi hamil dan melahirkan bayinya
Ø  Tanpa konflik-konflik batin yang serius dan rasa ketakutan
Banyak wanita dan anak gadis pada usia jauh sebelum saat kedewasaannya dihinggapi rasa takut mati, kalau nantinya dia melahirkan bayi. Akibatnya, fungsi keibuannya menjadi korban dari ketakutan-ketakutan yang tidak disadari ini (yaitu akibat dari takut mati sewaktu melahirka itu). Mereka kemudian menghidari perkawinan atau menghindari mempunyai anak.

2.5 Reaksi Wanita Hiper Maskulin dan Reaksi Wanita Total Pasif dalam Menghadapi Kelahiran
Wanita-wanita yang sangat aktif dan hipermaskulin bersifat kejantan-jantanan ekstrim, sejak mula pertama kehamilannya senantiasa diombang-ambingkan di antara keinginan instrinktif untuk memiliki seorang anak melawan rasa keengganan untuk melahirkan anak sendiri, karena anak tersebut diduga bisa menghambat kariere dan kebahagiannya. Kehidupan emosionalnya senantiasa goyah dilanda kerinduan-cinta pada seorang anak kontra kebencian akan mendapatkan keturunan. Kedua gejala tersebut bisa memuncak, lalu meletus jadi fenomena neurotis yang obsesif. Sebagai akibatnya, wanita tersebut tidak mempunyai kepercayaan diri, dan sering dikacau oleh gangguan-gangguan saraf, antara lain berupa :
Migraine (kepilau) atau sakit kepala yang hebat pada satu sisi kepalanya. Juga muncul banyak konflik dalam batinnya.
Apabila wanita yang sedemikian ini pada suatu saat bebar0benar menjadi hamil, maka konflik-konflik batinnya menjadi semakin akut. Kahamilannya dirasakan sebagau suatu “ peristiwa mimpi”, atau dirasakan sebagai pengalaman somnabulistis., seperti mimpi berjalan. Dan selalu saja ia dikejar-kejar ole h emosi-emosi yang antagonistis.
Dia juga dimuati oleh macam-macam kecemasan. Yaitu: cemas kalau sang bayi akan menghambat profesinya, bisa mematikan segala bakat dan kemampuan ibunya, kecemasan merasa kalau-kalau ia tidak mampu memelihara bayinya. Cemas kalau-kalau ia tidak bisa membagi waktunya untuk menjamin kelancaran rumah tangga, mengasuh anak,, dan mencapai karier dalam profesinya dan lain-lain. Jelaslah, bahwa sumber dari konflik-konflik batin tadi adalah :
ü  Bertandingnya konflik-konflik yang lebih fundamental. Yaitu antara dorongan maskulinitas melawan dorongan feminitasnya
ü  Dorongan maskulinitas lebih memberatkan prestasi, kariere dan jabatan, sedang dorongan feminitas secara naluriah menginginkan seorang anak sendiri.
Selanjutnya, pada saat kelahiran bayinya, wanita bersifat hiper-maskulin ini akan berusaha mengatasi ketakutan dan kesakitan jasmaniahnya dengan usaha sendiri, dan menganggap kelahiran bayinya sebagai suatu “ prestasi pribadi”. Akan tetapioleh karena usaha tersebut sifatnya sangat maskulin-agresif, maka kegiatan tersebut justru mengacaukan kelahiran yang normal, dan semakin mempersulit kelahiran bayinya dengan kemampuan sendiri. Lalu dia bersikap hiper-pasif, dan membiarkan para dokter serta bidan melahirkan bayinya melalui upaya pembedahan Caesar.
Kebalikan yang ekstrim dari wanita hiperaktif ialah waktu yang mengalami proses kelahiran bayinya secara total-pasif. Selama kehamilannya, wanita yang hiper-pasif ini sama sekali tidak menyadari keadaan dirinya, dan tidak merasa bertanggung jawab pada segala sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Ia Cuma tahu bahwa “perutnya” secara kebetulan ketempatan “ satu buah janin”, yang kelak akan lahir dari dirinya. Selanjutnya, alam, Tuhan, para bidan, dan para dokterlah yang harus  “ bertanggung jawab” akan kelahiran bayinya kelak,misalnya dengan pembelahan Caesar
Wanita tersebut tidak tahu bagaimana seharusnya ia bersikap dan bertingkah laku. Ia mersa tidak perlu mengetahui secara mendetail keadaan dirinya yang tengah hamil, karena hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna, atau sebagai urusan ibunya atau suaminya, dan bisa mengganggu ketenangan bathinnya.secara membuta ia mengikuti saja semua sugesti dan instruksi orang lain. Dan bagaikan anak-anak kecil yang masih senang bermain-main, ia memusatkan segenap minatnya pada :
            Upaya menghilangkan semua bentuk ketakutan dan bentuk kesakitan jasmaniahnya.
Tingkah laku wanita yang total-pasif selama kehamilannya sangat khas, yaitu:
1)      Selalu bergantung dan menempel pada ibunya atau substitute/pengganti ibunya.
2)      Ia menyuruh suaminya sebanyak mungkinmelakukan semua tugas-tugasnya
3)      Pada umumnya semua tingkah lakunya sangat infantile, kebayi-bayian, kekanak-kanakan, lincah-gembira, seakan-akan dunia ini penuh dengan nyanyian ria dan mainan belaka.
4)      Tetap saja ia bersikap sangat pasif
5)      Maka di tengah kelincahan-kegembiraan hati dan kondidi perutnya yang semakin membesar, menampakan dirinya benar-benarmenyerupai seorang gadis cilikyang tengah asyik bermain-main dengan bonekanya.
6)      Jika kehamilannya sudah menjadi semakintua, wanita tersebut biasanya jadi sangat tidak sabaran, dan menjadi semakin pasif. Ia banyak mengeluh, dan dan selalu saja mendesak-desak lingkungannya agar kelahiran bayinya bisa dipercepat.
7)      Wanita yang pasif dan infantile ini mengalami kehamilan dan kelahiran bayinya bagaikan satu perisriwa magis yang menakjubkan
8)      Otomatis,ia menyatakan kepada dunia luar adanya “sesuatu benda” yang di-injeksikan/dimasukkan ke dalam rahimnya melalui coitus, secara tidak sadar atau setengah sadar.
9)      Sama sekali is tidak merasa bertanggung jawab akan mati atau hidupnya “benda yang dititipkan dalam rahimnya”itu.
10)  Semua sikap tidak senang dan sikap bermusuh terhadapo ibunya sendiri (jika hal ini ada), menjdai lenyap hilang sejak masa kehamilannya. Sebab, sejak saat kehamilannya wanita tersebut ingin “ menyerahkan” semua tanggungjawab sendiri, dan “ menyerahkan anaknya yang bakal lahir’ kepada ibunya”. Yaitu anak yang dianggap sebagai “endo-parasit”, dan sebaiknya kelak diserahkan saja pada pertanggungjawaban ibunya.
11)  Oleh sikap sedemikian ini, pada umumnya, ia sanat mengharapkan agar ibunya bersedia terus menerus menunggui dirinya di saat ia hamil dan melahirkan bayinya, untuk memberikan asistensi pada kelahiran janinnya


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Semua perempuan di dunia ini tumbuh dengan pengetahuan bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan. Sayangnya, banyak perempuan yang merasa sakit lebih parah lebih dari yang seharusnya karena terpengaruh oleh rasa panik dan stres. Hal ini lazim dikenal sebagai konsep rasa takut-tegang-nyeri (fear-tension-pain concept), yakni rasa takut yang memicu ketegangan/kepanikan yang membuat otot-otot kaku, dan akhirnya menyebabkan rasa sakit.. Pengaruh-pengaruh psikologis ibu ikut memainkan peranan dalam fungsi reproduksi anak perempuannya misalnya  biasanya proses melahirkan itu banyak dipengaruhi oleh proses identifikasi wanita yang bersangkutan dengan ibunya. Jika ibunya mudah melahirkan anak-anaknya maka pada umumnya anak-anak gadisnya kelak juga mudah melahirkan bayinya.. Banyak orang berspekulasi tentang mudah atau sulitnya aktivitas melahirkan bayi, dengan memperbandingkan prosesnya dengan berbagai suku bangsa yang mempunyai bermacam-macam budaya. Proses kelahiran yang sulit inilah yang mendorong orang untuk mengembangkan ilmu kebidanan dan kedokteran, guna memperingan penderitaan para ibu yang tengah melahirkan bayinya.

DAFTAR PUSTAKA

Kartono, Kartini. 1977. Psikologi Wanita 2. Bandung: CV. Mandar Maju.

0 komentar :

Posting Komentar