About me

Senin, 11 Juni 2012

pelkes pada bayi dan balita

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kesehatan ibu dan anak adalah pangkal kesehatan dan kesejahteraan bangsa. Ibu sehat akan melahirkan anak yang sehat, menuju keluarga sehat dan bahagia. Mengingat anak - anak merupakan salah satu aset bangsa maka masalah kesehatan anak memerlukan prioritas masih cukup tinggi. Sekitar 37,3 juta penduduk di Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, setengah dari total rumah tangga mengkonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari, lima juta balita berstatus gizi kurang, lebih dari 100 juta penduduk  beresiko terhadap berbagai masalah kurang gizi. Dalam hal kematian, Indonesia mempunyai komitmen untuk mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDG’s) untuk mengurangi jumlah penduduk yang miskin dan kelaparan serta menurunkan angka kematian balita menjadi tinggal setengah dari keadaan pada tahun 2000 (Syarief,Hidayat.2004). Sumber daya manusia terbukti sangat menentukan kemajuan dan keberhasilan pembangunan suatu Negara. Terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif.. Pada bayi dan balita, kekurangan gizi dapat mengakibatnya terganggunya pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan spiritual. Bahkan pada bayi, gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Dengan demikian akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Negara dan bangsa juga akan menderita bila ibu, anak dan keluarga serta masyarkat tidak sehat. Sebab kematian bayi sangat erat hubungannya dengan tingkat sosial ekonomi, keadaan gizi dan pelayanan kesehatan.
Berdasarkan uraian diatas penulis mengambil pokok pembahasan tentang peran seorang Bidan sebagai tenaga kesehatan di komunitas dalam melakukan Pelayanan Kesehatan pada Bayi dan Balita dalam upaya mencapai sasaran MDG’s 2015.
 
BAB II
PEMBAHASAN

Peran dan Fungsi Bidan sesuai dengan Kompetensi Bidan Indonesia berkaitan dengan Asuhan di komunitas tentang Asuhan pada Bayi dan Balita. Pernyataan kompetensi 7: Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada bayi dan balita sehat 1 bulan ± 5 tahun.
A. PERAWATAN KESEHATAN PADA BAYI
Bayi merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang terbentuk dari pertemuan sperma dan sel telur di dalam rahim seorang wanita. Bayi merupakan anak yang berumur 28 hari sampai kurang lebih 1 tahun.
Perawatan kesehatan pada bayi meliputi:
1. Penyuluhan kesehatan kepada keluarga khususnya ibu, tentang:
a)Pemberian Asi Eksklusif untuk bayi di bawah 6 bulan dan makanan Pendamping Asi (MP-Asi) untuk bayi di atas 6 bulan. 
b)Cara menyusui bayi yang baik.
c)Pola pemberian makan dan masalah pemberian makan.
d)Kebersihan anak
e)Tanda anak sehat:
-Berat badan naik sesuai garis pertumbuhan mengikuti pita hijau pada KMS atau naik ke pita warna di atasnya
-Anak bertambah tinggi
-Kemampuannya bertambah sesuai umur 
-Jarang sakit       
-Ceria, aktif, dan lincah
f)Tanda bahaya umum/Anak sakit
-Tidak bisa minum atau menyusu
-Memuntahkan semuanya
-Kejang
-Letargis atau tidak sadar 
2. Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita.
Meliputi:
a) Pemantauan tumbuh kembang untuk meningkatkan kualitastumbuh kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang. 
b)Pencegahan kecelakaan
c)Kesehatan pola tidur 
3. Pemberian Imunisasi.
4. Pemberian Vit. A, kapsul vitamin A berwarna biru yang diberikan 1 kali dalam setahun.
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya tahan tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan infeksi lain.
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. (Depkes RI, 2007).
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
                      Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang berusia 6-11 bulan satu kali dalam satu tahun.
·                     Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada balita
Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia ( mata kering ). Hal ini dapat terjadi karena serapan vitamin A pada mata mengalami pengurangan sehingga terjadi kekeringan pada selaput lendir atau konjungtiva dan selaput bening ( kornea mata ).

B. PERAWATAN KESEHATAN PADA BALITA
Balita merupakan anak usia 1-5 tahun. Pelayanan kesehatan pada anak  balita, meliputi:
1. Pemeriksaan kesehatan anak balita secara berkala
2. Penyuluhan pada orang tua, mengenai:
a)Kebersihan anak 
b)Perawatan gigi
c)Perbaikan gizi/pola pemberian makan anak 
d)Kesehatan lingkungan
e)Pendidikan seksual dimulai sejak balita (sejak anak mengenalidentitasnya sebagai laki-laki atau perempuan)
f)Perawatan anak sakit
g)Jauhkan anak dari bahaya
h)Cara menstimulasi perkembangan anak 
3. Imunisasi dan upaya pencegahan penyakit
4. Pemberian vitamin A, kapsul vit.A berwarna merah diberikan 2 kali dalam setahun
5. Identifikasi tanda kelainan dan penyakit yang mungkin timbul pada bayi dan cara menanggulanginya

Kunjungan anak balita
Bidan berkewajiban mengunjungi bayi yang ditolongnya ataupun yang ditolong oleh dukun di bawah pengawasan bidan di rumah. Kunjungan ini dilakukan pada:
a)Minggu pertama setelah persalinan. Untuk selanjutnya bayi bisa dibawa ketempat bidan bekerja. 
b)Anak berumur sampai 5 bulan diperiksa setiap bulan.
c)Kemudian pemeriksaan dilakukan setiap 2 bulan sampai anak berumur 12 bulan
d)Setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan sampai anak berumur 24 bulan
e)Selanjutnya pemeriksaan dilakukan satu kali se-tahun.

Kegiatan yang dilakukan pada kunjungan balita antara lain:
a)Pemeriksaan fisik pada anak 
b)Penyuluhan atau nasehat pada ibu dan keluarga
c)Dokumentasi pelayanan

C. PEMANTAUN TUMBUH KEMBANG PADA BAYI DAN BALITA/DETEKSI DINI
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang biasa diukur dengan ukuran berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik.
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam stuktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
Deteksi dini tumbuh kembang bayi dan balita adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada bayi dan balita.
Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang bayi dan balita, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan/intervensiyang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu dan keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi dan balita tersebut.
Ada tiga jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa:
1.Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/menemukan status gizi kurang/buruk danmikro/makrosefali.
2.Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan bayi dan balita(keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.
3.Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional,autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Anamnesis tumbuh kembang anak;
1. Anamnesis faktor pranatal dan perinatal
2. Kelahiran prematur
3.Anamnesis faktor lingkungan
4.Penyakit-penyakit yang mempengaruhi tumbuh kembang dan malnutrisi
5.Anamnesis kecepatan pertumbuhan anak
6.Pola perkembangan anak dalam keluarga
Perkembangan Anak Balita
Frankenburg dkk (1981) melalui DDST (Denver Depelopmental Screening Test) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu ;
1. Personal Sosial (kepribadian atau tingkah laku sosial)
2. Fine motor adaptive (gerakan motorik halus)
3. Language (bahasa)
4. Gross Motor (perkembangan motorik kasar)
Kesimpulan :
1. Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa.
2. Tumbuh kembang mengikuti pola yang sama dan tertentu, tetapi kecepatannya berbeda antara satu anak dengan lainnya.
3. Tumbuh kembang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
4. Penting nya ibu dalam ekologi anak, para genetik faktor yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikobiologisnya terhadap tumbuh kembang post natal dan perkembangan kepribadian anak.
5. Perlunya stimulasi dalam tumbuh kembang anak.
6. Perlunya deteksi dan penanganan dini, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Tujuan penilaian perkembangan anak adalah :
1. Mengetahui kelainan perkembangan anak dan hal-hal lain yang merupakan resiko terjadinya kelainan perkembangan tersebut
2. Mengetahui berbagai masalah perkembangan yang memerlukan pengobatan atau konseling genetik
3. mengetahui kapan anak perlu dirujuk ke pelayanan yang lebih lengkap.
Tahap-tahap penilaian perkembangan anak
Anamnesis
Tahap pertama adalah melakukan anamnesis yang lengkap, karena kelainan perkembangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan anamnesis teliti maka salah satu penyebabnya dapat diketahui.


Skrining gangguan perkembangan anak
Pada tahap ini dianjurkan digunakan instrumen-instrumen untuk skrining guna mengetahui kelainan perkembangan anak, misalnya dengan menggunakan DDST, test IQ, test psikologi lainnya.
Evaluasi lingkungan anak
Tumbuh kembang anak adalah hasil interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan bio-fsiko-psikososial. Oleh karena itu, untuk deteksi dini, kita juga harus melakukan evaluasi lingkungan anak tersebut. Misalnya dapat digunakan HSQ (home screening Questionnaire)
Evaluasi Penglihatan dan pendengaran anak
Test penglihatan misalnya untuk anak umur kurang dari 3 tahun dengan test fiksasi, umur 2,5 tahun – 3 tahun dengan kartu gambar dari Allen dan diatas umur 3tahun dengan huruf E. Juga diperiksa apakah ada strabismus dan selanjutnya periksa kornea dan retina nya.
Sedangkan screening pendengaran anak, melalui anamnesis atau menggunakan audiometer kalau ada alatnya. Disamping itu dilakukan juga pemeriksaan bentuk telinga, hidung, mulut, dan tenggorokan untuk mengetahui adanya kelainan bawaan.
Evaluasi bicara dan bahasa anak
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah kemampuan anak berbicara masih dalam batas-batas normal atau tidak. Karena kemampuan berbicara menggambarkan kemampuan SSP, endokrin, ada atau tidak adanya kelainan pada hidung, mulut dan pendengaran, stimulasi yang diberikan, emosi,dsb.
Pemeriksaan Fisik
Untuk melengkapi anamnesis dibutuhkan pemeriksaan fisik, agar diketahui apabila terdapat kelainan fisik yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Misalnya berbagai sindrom, penyakit jantung bawaan, tanda-tanda penyakit defisiensi,dll.
Pemeriksaan neurologi
Dimulai dengan anamnesis masalah neurologi dan keadaan-keadaan yang diduga dapat mengakibatkan gangguan neurologi seperti trauma lahir, persalinan yang lama, asfiksia yang berat, dsb.  Kemudian dilakukan test atau pemeriksaan neurologi yang teliti, maka dapat membantu dalam diagnosis suatu kelainan, misalnya kalau ada lesi intrakranial, palsi serebralis,  neuropati perifer, penyakit-penyakit degeneratif, dsb.
Untuk mengetahui secara dini adanya palci serebralis dianjurkan menggunakan pemeriksaan neurologi menurut Milani Compareti, yang merupakan cara untuk evaluasi perkembangan motorik dari lahir sampai umur 2 tahun.
Evaluasi Penyakit-Penyakit metabolik
Salah satu penyebab gangguan perkembangan pada anak adalah disebabkan oleh penyakit metabolik. Dari anamnesis dapat dicurigai adanya penyakit metabolik apabila ada anggota keluarga lainnya yang terkena penyakit yang sama. Adanya tanda-tanda klinis seperti rambut pirang, dicurigai adanya PKU (Phenyl ketonuria), ataksia yang intermitten dicurigai adanya hiperamonemia dsb. Disamping itu diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya yang sesuai dengan kecurigaan kita.
Integrasi dari hasil penemuan
Berdasarkan anamnesis dan semua pemeriksaan tersebut di atas, dibuat suatu kesimpulan diagnosis dari gangguan perkembangan tersebut. Kemudian ditetapkan penatalaksanaanya, konsultasi kemana dan prognosisnya.
Test-test perkembangan
1. Test intelegensi individual (test IQ)
2.Test prestasi
3. Test psikomotorik
4.Test  Proyeksi
5.Test perilaku adaptif

D.  IMUNISASI
Beberapa imunisasi dasar yang diwajibkan pemerintah adalah sebagai berikut ;
1.      Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guenin) 
2.      Imunisasi Hepatitis B
3.      Imunisasi Polio
4.      Imunisasi DPT (Difteri, Petusis, Tetanus)
5.      Imunisasi Campak 

1.  Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guenin)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC (tuberculosis) yang berat. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah sejak lahir, apabila usia lebih dari 3 bulan dilakukan uji tuberculin terlebih dahulu danvaksin BCG diberikan apabila uji tuberculin negative.
Efek samping pemberian imunisasi BCG :
-    Terjadinya ulkus pada daerah suntikan
-    Limfadentis regionalis di ketiak dan atau leher 
-    Reaksi panas

2. Imunisasi Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Kandungan vaksin iniadalah HbsAg dalam bentuk cair.
Efek samping pemberian vaksin Hep. B :
-    Reaksi local seperti rasa sakit
-    Kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan
-    Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah dua hari.

3. Imunisasi Polio
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penytakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Vaksin yang digunakan yaitu oral polio vaccine (OPV).
Efek Samping:
Hampir tak ada. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan, dan sakit otot. Kasusnya pun sangat jarang.



4. Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakitdifteri, pertusis dan tetanus. Vaksin DPT ini merupakan vaksin yang mengandungkuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya namun masih dapatmerangsang pembentukan zat anti (toksoid).
Pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti. Pada pemberian kedua dan ketiga terbentuk zat antiyang cukup. Upaya pencegahan penyakit difteri, pertusis dan tetanus perlu dilakukan sejak dini melalui imunisasi karena penyakit tersebut sangat cepat serta dapat meningkatkan kematian bayi dan anak balita.
Efek samping penggunaan vaksin DPT :
-    Efek ringan : terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikandan demam.
-    Efek berat : terjadi menangis hebat, kesakitan kurang lebih 4 jam,kesadaran menurun, terjadi kejang, ensefalopati dansyok.

5. Imunisasi Campak 
            Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakitcampak pada anak karena termasuk penyakit menular. Kandungan vaksin iniadalah virus yang dilemahkan. Angka kejadian campak juga sangat tinggi dalammempengaruhi kesakitan dan kematian anak.
Efek samping penggunaan vaksin campak :
Hingga 15% pasien dapatmengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12hari setelah vaksinansi

BAB III
PENUTUP

Salah satu faktor penyumbang dari Angka kematian bayi dan Angka kematian balita yaitu dari segi pencapaian pelayanan kesehatan. Sehingga dengan adanya bidan di komunitas dekat dengan masyarakat diharapkan dapat menekan dan menurunkan angka kematian tersebut. Bidan di masyarakat harus mampu menjalankan fungsi-fungsi primer  pelayanan kebidanan.
Dari skrining/deteksi dini sampai dengan rujukan apabila diperlukan. Hal ini dilakukan pada seluruh sasaran asuhan kebidanan salah satunya yaitu bayi dan balita. Peran seorang Bidan di Komunitas dalam upaya mencapai MDG’s 2015 meliputi upaya Pencegahan dengan Kegiatan imunisasi pada bayi harusdipertahankan atau ditingkatkan cakupannya sehingga mencapai Universal Child Immunization (UCI) sampai di tingkat desa. Peningkatan pelaksanaan ASI eksklusif dan peningkatan status gizi serta peningkatan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang jadi modal awal untuk sehat.
Pelayanan Kesehatan pada Bayi dan Balita
1. Perawatan kesehatan bayi
2. Perawatan kesehatan anak balita
3. Pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita (deteksi dini)









0 komentar :

Posting Komentar